BMRTIMES.COM, BITUNG — Festival Pesona Selat Lembeh (FPSL) 2026 kembali menegaskan daya tarik Kota Bitung sebagai salah satu destinasi unggulan wisata bahari di Indonesia. Tak sekadar menyuguhkan pesona budaya dan kekayaan laut, perhelatan yang masuk dalam kalender Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 ini juga menyoroti pentingnya keselamatan pelayaran dan sinergi lintas sektor dalam mendorong pembangunan daerah.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Dr. Ferrytass, S.H., M.Hum., Dt. Toembidjo, menghadiri rangkaian kegiatan FPSL 2026 yang dirangkaikan dengan _Public Audience Monitoring dan Evaluasi Keselamatan Berlayar_ di Satrol Kodaeral VIII, Kota Bitung, Sabtu (10/10/2026).
Kehadiran Plt. Kajati Sulut bersama Kepala Kejaksaan Negeri Bitung, Erwin Widihantono, S.H., M.H., menjadi wujud dukungan institusi Kejaksaan terhadap pengembangan pariwisata, penguatan potensi maritim, serta peningkatan keselamatan aktivitas pelayaran di Sulawesi Utara.
FPSL 2026 tidak hanya menjadi panggung untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan bahari Kota Bitung, tetapi juga momentum strategis untuk memperkuat posisi Selat Lembeh sebagai destinasi wisata yang memiliki daya tarik hingga tingkat internasional.
Sejumlah pejabat nasional dan daerah turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggaraan Kegiatan Kemenparekraf, Titik Lestari, M.Si., yang mewakili Menteri Pariwisata RI; Plt. Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Dr. Triono, S.Pel., M.M., M.H.; Gubernur Sulawesi Utara; serta Wali Kota Bitung, Hengky Honandar, S.E.
Nuansa internasional juga terasa melalui kehadiran perwakilan konsulat negara sahabat, termasuk Jepang dan Filipina. Partisipasi tersebut semakin memperkuat posisi FPSL sebagai ajang promosi potensi wisata bahari yang terbuka bagi perhatian dunia.
Dukungan lintas sektor turut ditunjukkan melalui kehadiran jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sulawesi Utara dan Kota Bitung, termasuk Kapolda Sulut, Komandan Kodaeral VIII, Danrem 131/Santiago, Dansatrol Kodaeral VIII, Danlanudsri Manado, Kabinda Sulut, Kepala BPK RI Perwakilan Sulut, Kepala BNNP Sulut, serta Ketua Pengadilan Tinggi Manado.
Keselamatan Pelayaran Jadi Fondasi Wisata Bahari.
Di balik kemeriahan festival, aspek keselamatan pelayaran menjadi perhatian utama. Sebelum seremoni pembukaan FPSL 2026, kegiatan diawali dengan forum Public Audience Monitoring dan Evaluasi Keselamatan Berlayar yang diselenggarakan Direktorat Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Kementerian Perhubungan.
Forum ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kesadaran dan kepatuhan terhadap standar keselamatan di wilayah perairan, khususnya bagi nelayan dan pelaku usaha kapal wisata yang beraktivitas di kawasan pesisir.
Dalam kesempatan tersebut, Plt. Kajati Sulut bersama perwakilan Kemenparekraf dan para pejabat yang hadir menyaksikan penyerahan plakat penghargaan serta pembagian simbolis pelampung keselamatan (life jacket) kepada pelaku usaha kapal wisata dan nelayan lokal.
Langkah ini menegaskan bahwa pertumbuhan pariwisata bahari harus berjalan beriringan dengan jaminan keselamatan. Meningkatnya kunjungan wisatawan dan aktivitas transportasi laut perlu diimbangi dengan kesiapan sarana keselamatan, kepatuhan terhadap prosedur pelayaran, serta kemampuan mengantisipasi risiko di laut.
Dengan demikian, pesona Selat Lembeh tidak hanya dapat dinikmati, tetapi juga harus didukung oleh lingkungan wisata yang aman dan memberikan rasa nyaman bagi wisatawan maupun masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada sektor kelautan.
“Together in Harmony”, Mengangkat Pesona Budaya dan Laut Bitung.
Usai rangkaian kegiatan keselamatan maritim, FPSL 2026 resmi dilanjutkan dengan perayaan yang mengusung tema “Together in Harmony”. Tema ini merefleksikan pentingnya kebersamaan dan kolaborasi dalam mengembangkan potensi daerah, sekaligus merawat kekayaan budaya dan bahari sebagai identitas Kota Bitung.
Beragam atraksi menjadi daya tarik festival tahun ini, mulai dari Parade Masamper, Sailing Pass x Marpolex 2026, Dancing on The Boat, hingga Tuna and Kolintang Experience yang memadukan kekayaan kuliner tuna dengan alunan musik tradisional kolintang.
Perpaduan budaya dan potensi kelautan tersebut menjadi medium promosi yang memperkenalkan karakter khas Bitung kepada masyarakat luas, sekaligus menghadirkan pengalaman wisata yang menarik bagi pengunjung dari berbagai daerah maupun mancanegara.
Lebih dari sekadar perayaan, FPSL 2026 diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat melalui peningkatan kunjungan wisatawan, promosi produk lokal, serta terbukanya peluang usaha bagi pelaku UMKM, nelayan, dan sektor jasa pariwisata.
Kejaksaan Dukung Pembangunan Daerah yang Berkelanjutan.
Kehadiran Plt. Kajati Sulut dan Kajari Bitung dalam rangkaian kegiatan tersebut mencerminkan dukungan Kejaksaan terhadap kolaborasi antara pemerintah, aparat penegak hukum, pelaku usaha, dan masyarakat dalam mendorong kemajuan daerah.
Sinergi tersebut menjadi modal penting untuk memastikan pengembangan pariwisata tidak hanya berorientasi pada kemeriahan acara, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, membuka peluang ekonomi, serta menjaga kelestarian lingkungan pesisir dan laut.
Melalui FPSL 2026, Selat Lembeh diharapkan semakin dikenal sebagai destinasi wisata bahari yang memadukan keindahan alam, kekayaan budaya, keselamatan pelayaran, dan keberlanjutan ekonomi masyarakat.
Dengan kolaborasi yang kuat dan dukungan seluruh pemangku kepentingan, Kota Bitung memiliki peluang semakin besar untuk memperkuat daya saing pariwisatanya di tingkat nasional maupun global, sekaligus menjadikan keselamatan maritim dan pelestarian lingkungan sebagai bagian tak terpisahkan dari pembangunan daerah.
FPSL 2026 bukan sekadar perayaan pesona laut, melainkan momentum untuk menyatukan budaya, keselamatan, dan kesejahteraan masyarakat demi masa depan pariwisata bahari Sulawesi Utara yang lebih maju dan berkelanjutan.***
Editor : Sandy Bawoel







