Penulis : Sandy Bawoel
Usianya 62 tahun, tetapi semangat Hajan Paputungan untuk mengembangkan kebun masih terus tumbuh.
Hajan adalah Ketua Kelompok Tunas Baru, Matali Baru. Ia mengelola sekitar dua hektare kebun yang lokasinya terpisah-pisah. Di lahan itu, ia menanam kakao dan mempertahankan tanaman kelapa yang sudah tumbuh sejak puluhan tahun lalu.
Perjalanan Hajan bersama kakao dimulai pada 2019. Saat itu, ia menjadi salah satu anggota kelompok pertama yang mengikuti sosialisasi pengembangan kakao. Pada Desember tahun yang sama, mereka langsung mulai menanam.
Keyakinan Hajan tidak datang begitu saja. Sebelum menanam, ia mengikuti sosialisasi, pelatihan, dan field study di tiga lokasi: Bakan, Biga, dan Muntoi. Di sana, ia melihat sendiri tanaman kakao yang sudah berbuah. Buahnya besar-besar dan jumlahnya banyak. “Dari situ kita yakin,” begitu kira-kira keyakinan yang tumbuh dalam diri Hajan.
Di kebunnya, sekitar 400 pohon kakao lokal berusia 14 tahun ditebang pada 2019 karena dianggap sudah tidak lagi produktif. Setelah itu, Hajan mulai menanam kembali dengan bibit baru. Ia menerima sekitar 300 anakan untuk dikembangkan di lahannya.
Namun, memulai sesuatu yang baru tidak pernah mudah. Pada awal penanaman, Hajan menghadapi musim panas. Bibit-bibit yang baru ditanam membutuhkan perhatian lebih. Ia harus rutin menyiram agar tanaman tidak kekurangan air.
Persoalan lain muncul ketika pemupukan menjadi tantangan. Tetapi kali ini Hajan tidak menghadapinya sendirian. Pendampingan dari Jaringan Rehabilitasi Masyarakat (JRBM) membantu kelompok mengatasi persoalan tersebut.
Pelan-pelan, kesulitan yang awalnya terasa berat mulai bisa ditangani. Di kebunnya, Hajan juga tidak perlu menyingkirkan semua tanaman lama. Kelapa yang sudah ada sejak tahun 1970-an dan 1980-an tetap dipertahankan.

Bagi Hajan, kelapa justru bisa menjadi bagian dari sistem kebun kakao. Tanaman kakao membutuhkan naungan, dan pohon kelapa yang sudah tumbuh sejak lama dapat memberikan naungan tersebut.
Selain kakao, ada pula vanili yang mulai dikembangkan. Bagi Hajan, kebun bukan sekadar tempat menanam. Kebun adalah tempat menggantungkan harapan keluarga.
Ia dan istrinya, Patibi Waworuntu, 58 tahun, yang bekerja sebagai PNS di bidang kesehatan, memiliki dua anak. Anak pertama laki-laki dan kini hampir menyelesaikan kuliahnya di Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Anak kedua perempuan dan sedang menempuh pendidikan di Poltekkes Manado.
Dulu, ketika kakao belum menjadi sumber penghasilan seperti sekarang, membiayai pendidikan anak bukan perkara mudah.
Untuk membayar sekolah, Hajan terkadang harus menjual hasil kebun, bahkan berutang. Pembayaran biaya sekolah sering tertunda. Membeli seragam pun harus menunggu ada uang. Biaya kos anak juga tidak jarang terlambat dibayarkan.
Bukan hanya soal uang. Dalam perjalanan itu, ada pula cibiran. Ketika orang lain belum melihat hasilnya, pilihan Hajan untuk menanam kakao tentu tidak selalu dipahami. Tetapi ia tetap menjalani prosesnya.
Kini, kebun itu menjadi bagian dari cerita perubahan keluarganya. Dari dua hektare lahan yang terpisah-pisah, dari bibit-bibit yang ditanam pada 2019, Hajan membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar tanaman kakao kesempatan untuk menyekolahkan anak-anaknya dan menjaga harapan keluarga tetap hidup.
Baginya, setiap pohon yang tumbuh adalah pengingat bahwa hasil tidak selalu datang dengan cepat.
Kadang, yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mulai menanam, kesabaran untuk merawat, dan keyakinan untuk tetap bertahan ketika hasilnya belum terlihat.***







