BMRTIMES.COM, KOTAMOBAGU — Tragedi drag race yang terjadi di Sirkuit Non-Permanen, Kelurahan Upai, Kota Kotamobagu, beberapa waktu lalu, masih menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat.
Musibah tersebut memantik keprihatinan dari berbagai pihak. Ucapan belasungkawa, dukungan moril, hingga bantuan terus mengalir kepada keluarga yang tengah kehilangan orang-orang terkasih.
Di tengah suasana duka tersebut, kepedulian datang dari Gofal Fauzan Bonde (GFB). Ia mendatangi sejumlah keluarga korban untuk menyampaikan secara langsung rasa duka dan keprihatinannya atas tragedi yang terjadi.
Dalam kunjungan itu, GFB tak hanya memberikan dukungan moril. Ia juga menyerahkan santunan kepada keluarga korban sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas. “Kehadiran kami ini merupakan bentuk kepedulian dan rasa turut berduka. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini,” ujar GFB.

Menurutnya, perhatian terhadap keluarga korban harus terus dijaga. Meski santunan tidak akan mampu menggantikan kehilangan orang yang dicintai, kehadiran dan dukungan dari berbagai pihak diharapkan dapat menjadi penguat bagi keluarga yang sedang menjalani masa berkabung.
GFB juga berharap tragedi tersebut menjadi pelajaran bersama. Ia menekankan pentingnya aspek keselamatan dan keamanan sebagai perhatian utama dalam setiap penyelenggaraan kegiatan olahraga otomotif di masa mendatang.
Kepedulian GFB terhadap keluarga korban tidak berhenti pada pemberian santunan. Sejak hari pertama tragedi, ia juga memilih untuk tetap berada di sisi Lucky Sugeha, Ketua Panitia Drag Race dan Drag Bike Kotamobagu 2026.
GFB mendampingi Lucky menemui keluarga korban, menyampaikan belasungkawa dan permohonan maaf, sekaligus memastikan perhatian terhadap keluarga korban tetap berjalan.
Bagi GFB, langkah tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab moral sebagai seorang sahabat. Ia terus memberikan dukungan moril kepada Lucky dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul setelah tragedi tersebut.
Namun, dukungan itu tetap diberikan dengan menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Bagi GFB, mendampingi seorang sahabat tidak berarti mengesampingkan kepentingan korban maupun proses penanganan perkara.

Sebaliknya, di tengah situasi yang berat, ia berupaya memastikan dua hal tetap berjalan beriringan: keluarga korban tidak kehilangan perhatian, sementara sahabatnya juga tidak menghadapi persoalan seorang diri.
Tragedi di lintasan Upai telah meninggalkan luka bagi banyak keluarga. Bagi mereka yang kehilangan, tidak ada bentuk bantuan yang mampu menggantikan sosok yang telah pergi. Namun, perhatian, kehadiran, dan dukungan moril dapat menjadi sedikit penguat di tengah masa berkabung.
Bagi GFB, berbagi duka bukan sekadar datang, menyampaikan belasungkawa, lalu menyerahkan bantuan. Ada kepedulian yang harus terus dijaga, ada keluarga yang perlu ditemui, dan ada seorang sahabat yang perlu tetap didampingi melewati masa sulit.***







